Dalam renungan jum'at ini saya mengingatkan kepada diri dan Saudara semuanya, akhirr-akhir ini ummat Islam diselimuti oleh sebuah penyakit yang oleh para Sufi disebut larut dalam kelahiriyahan profanitas yang hampa. Sebuah suasana hidup yang dihiasi oleh terbelahnya dua alam yaitu yang lahiriyah (pendekatan fiqih atau hukum normatif) dan yang batiniyah (pendekatan tasawuf atau akhlaqi), dan kebanyakan ummat terperangkap dalam paham eksoterisme yang cenderung memandang segala sesuatu pada nilai luarnya.
Seperti kita saksikan Asma Allah adalah perkataan Mulia yang oleh al-qur’an diibaratkan pohon yang baik, sedang omongan kosong atau profan, yakni ucapan lahiriyah yang hampa, adalah kalimat hina yang oleh al-qur’an diserupakan dengan pohon buruk yang akar-akarnya lintang pukang dipermukaan tanah, sehingga tak bakal lestari. ”wamatsalu kalimatin khabitsatin kasyajaratin khabistatin ijtutstsat min fauqil ardli maa lahaa min qaraarin”(QS.Ibrahim14: 26).
Para Sufi tak bisa menolak kelahiriyahan karena itu merupakan salah satu dari Asma Allah, tetapi mesti dingat bahwa dalam hakikat, yang lahir dan yang batin itu satu. Karena itu, kelahiriyahan harus dipertalikan dengan yang batin, baginya dunia ini adalah dunia simbul-simbul. Yang ditampik para Sufi ialah kelahiriyahan profanitas yang independen, yang disini sang ego menumpahkan perhatiannya pada sesuatu semata-mata demi ”sesuatu” itu sendiri. Namun secara metodis, karena kelahiriyahan semacam ini telah menjadi ”watak kedua ” manusia (menjadi sebuah sistem hidup yang terstruktur), keseimbangan itu perlu dipulihkan dengan sedapat mungkin menyingkirkan secara temporal semua kelahiriyahan.
Dari titik pandang inilah sosok Sufi Hatim Al-Asham berkata: ”Setiap pagi setan bertanya kepadaku, apa yang akan kau makan, apa pula yang akan kau kenakan, dan dimana kau akan tinggal ?. Kemudian aku menjawab: Aku akan memakan ajal, mengenakan kafan , dan tinggal didalam kubur.
Salah satu kunci qur’ani tentang makna-makna batiniyah adalah ayat 53 surat fushshilat:
”sanuriihim ayatina fil afaaqi wa fii anfusihim, hatta yatabaiyyana lahum annahul haq, akan kami tunjukkkan kepada mereka ayat-ayat kami disegenap penjuru bumi dan dalam diri-diri mereka sendiri”.
Ini menunjukkan adanya pertalian antara fenomena lahiriyah dan indra-indra batiniyah. Ketika itulah seharusnya seluruh aktifitas profan kita teraliri oleh kejernihan Kalbu. Dan ayat-ayat tersebut secara khusus mengandung pelajaran agar menelaah mana diantara ”tanda-tanda disegenap penjuru bumi” itu yang merupakan simbolnya dan yang hanya merupakan dampak dari kelahiriyahan profanitas yang independen.
Sebagai pusat seluruh kemaujudan kita, kalbu adalah Matahari batiniyah kita. Tapi kadang kita tak mampu menangkap cahayanya karena ada hijab mendung yang menyelimuti hati itulah dosa-dosa profaniah. Jangan kotori hatimu dengan sikap dan perilaku buruk yang menyesakkan.
Jumat, 05 Februari 2010
Membangun Profesionalisme Berbasis Al-Hanifiyah Al-samhah
Profesionalisme kita akui telah memarakkan jagad kerja masyarakat kontemporer, Al-qur’an sendiri dalam doktrinnya selalu mengulang-ulang jargon “amanu wa amilu al-shalihat” artinya motto yang dikedepankan adalah jika aku beriman maka aku harus bekerja sebaik-baiknya, bukan hanya sekedar mendewakan pikiran semata, karena dalam berkreasi tersebut, Islam menghendaki dibarengi dengan keberpihakan kepada memberdayakan yang lemah dan terbelakang.
Profesionalisme merupakan kemampuan manajerial yang inovatif, lentur, handal dan beretos kerja tinggi, serta memberdayakan yang lemah dengan mengacu pada visi dan nilai-nilai organisasi. Profesionalisme bisa jadi merupakan sebuah wahana kunci menuju jalan kesuksesan, bahkan mungkin juga keberkahan karena profesionalisme itu identik dengan buah keihlasan itu sendiri.
Agama Al-hanifiyah as-samhah yang diajarkan Ibrahim memiliki prinsip Tauhid menentang segala bentuk penindasan, semangat menggali kebenaran dan toleran terhadap adanya perbedaan, Ibnu Abbas menuturkan bahwa Nabi saw ditanya: “agama mana yang paling dicintai Allah? Nabi menjawab: “semangat kebenaran yang toleran, al-hanifiyah as-samhah”. Sebuah agama yang mengedepankan kebebasan berkepercayaan dan menolak segala bentuk pemaksaan. Jadi yang dibangun Ibrahim dan para Nabi setelahnya adalah agama yang inklusif yang bersifat terbuka untuk diinterpretasikan oleh siapapun demi sebesar-besar kemaslahatan ummat manusia.
Karena itu, profesionalisme hanya tumbuh dalam masyarakat yang bebas berkreasi dan terbuka untuk dikritisi, profesionalisme sejati tak akan dapat tumbuh dalam masyarakat agama yang statis dan eksklusif, karena kondisi yang demikian hanya melahirkan masyarakat yang reaktif dan selalu curiga terhadap perubahan dan pembaharuan padahal perubahan merupakan keniscayaan dalam etos kehidupan yang berorientasi kedepan.
Ada tiga pilar profesionalisme yang mesti dicermati: Pertama individu yang punya high need for achievement (atau sering disebut sebagai NAch = need for achievement). Yaitu gairah untuk melakoni kerja yang sebaik-baiknya dan seteliti-telitinya (Ihsan dan Itqon) demi terengkuhnya hasil karya yang juga layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik.
Pilar profesionalisme yang kedua adalah sebuah ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka selalu akan ada celah dan ruang untuk terus memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, mengasah ilmu dan merajut ketrampilan.
Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting yaitu ruh spiritualitas yang kokoh yang bersemayam dalam relung hati yang tulus. Inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Sang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku, ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta Alam”.
Sebuah hadis otentik menuturkan: “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah”.
Dalam suatu hadis Kudsi dikatakan, "barang siapa tak mampu mencukupi dirinya di dunia, tak ada tempat baginya di surga."
Profesionalisme merupakan kemampuan manajerial yang inovatif, lentur, handal dan beretos kerja tinggi, serta memberdayakan yang lemah dengan mengacu pada visi dan nilai-nilai organisasi. Profesionalisme bisa jadi merupakan sebuah wahana kunci menuju jalan kesuksesan, bahkan mungkin juga keberkahan karena profesionalisme itu identik dengan buah keihlasan itu sendiri.
Agama Al-hanifiyah as-samhah yang diajarkan Ibrahim memiliki prinsip Tauhid menentang segala bentuk penindasan, semangat menggali kebenaran dan toleran terhadap adanya perbedaan, Ibnu Abbas menuturkan bahwa Nabi saw ditanya: “agama mana yang paling dicintai Allah? Nabi menjawab: “semangat kebenaran yang toleran, al-hanifiyah as-samhah”. Sebuah agama yang mengedepankan kebebasan berkepercayaan dan menolak segala bentuk pemaksaan. Jadi yang dibangun Ibrahim dan para Nabi setelahnya adalah agama yang inklusif yang bersifat terbuka untuk diinterpretasikan oleh siapapun demi sebesar-besar kemaslahatan ummat manusia.
Karena itu, profesionalisme hanya tumbuh dalam masyarakat yang bebas berkreasi dan terbuka untuk dikritisi, profesionalisme sejati tak akan dapat tumbuh dalam masyarakat agama yang statis dan eksklusif, karena kondisi yang demikian hanya melahirkan masyarakat yang reaktif dan selalu curiga terhadap perubahan dan pembaharuan padahal perubahan merupakan keniscayaan dalam etos kehidupan yang berorientasi kedepan.
Ada tiga pilar profesionalisme yang mesti dicermati: Pertama individu yang punya high need for achievement (atau sering disebut sebagai NAch = need for achievement). Yaitu gairah untuk melakoni kerja yang sebaik-baiknya dan seteliti-telitinya (Ihsan dan Itqon) demi terengkuhnya hasil karya yang juga layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik.
Pilar profesionalisme yang kedua adalah sebuah ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka selalu akan ada celah dan ruang untuk terus memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, mengasah ilmu dan merajut ketrampilan.
Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting yaitu ruh spiritualitas yang kokoh yang bersemayam dalam relung hati yang tulus. Inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Sang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku, ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta Alam”.
Sebuah hadis otentik menuturkan: “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan. Perhatikanlah hal-hal yang bermanfaat bagimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah menjadi lemah”.
Dalam suatu hadis Kudsi dikatakan, "barang siapa tak mampu mencukupi dirinya di dunia, tak ada tempat baginya di surga."
Rabu, 30 Desember 2009
GUSDUR DIMATA DICK DOANK
Melihat wawancara meninggalnya Gusdur di Metro TV tadi pagi saya tertegun mendengarkan komentar bung Dick tentang Kyai Nyentrik ini, begitu arifnya Bung Dick menuturkan pandangannya tentang sosok Presiden kita yang keempat ini. Memang Gusdur telah banyak mengajarkan kearifan baru yang memiliki nilai sangat tinggi bagi bangsa ini. Tapi bagi masyarakat kebanyakan mungkin kearifan itu tak bisa dipahami, jangankan masyarakat biasa, para kyai dilngkungannya sendiri banyak yang tak paham dengan kearifannya itu. Maklum kita sudah terlalu lama sengaja membutakan mata hati kita terhadap kearifan tersebut karena keseharian kita larut dan tenggelam dalam gemerlapnya kehidupan yang mapan, termasuk barangkali jabatan ke-kyai-an yang memang secara sosiologis memberi cukup banyak kenikmatan dan kehormatan.
Gusdur mengajarkan kepada kita kesederhanaan dan kebersahajaan, jabatan itu kalau perlu digadaikan saja dengan kebenaran, tak perlu dipertahankan kalau hanya menyebabkan terjadinya kemadharatan yang lebih besar pada masyarakat.
Pendapat Dick menyentakkan saya ketika beliau menyatakan seni lebih tua dari agama dan gusdur tahu itu, seni mampu melenturkan pandangan agama yang kaku dan keras menjadi lembut dan indah. Gusdur juga telah memberikan ruang kebebasan yang luas untuk dapat digunakan sebagai tempat berekspresi tanpa rasa takut dan khawatir salah. Diruang kebebasan itulah sebenarnya kita dapat berlomba-lomba berbuat kebajikan dalam rangka mengabdi kepada sang Khalik melalui metode yang santun meski terpaksa harus menempuh jalan dan dimensi yang berbeda-beda. Kata kunci beragama itu "laa ikraaha fiddiini" yaitu kebebasan mengekspresikan keberagamaan asal dibarengi dengan niat dan ketulusan dalam meraih ridha Tuhan.
Selamat jalan Gus semoga lahir gus-gus yang bersedia meneruskan perjuanganmu, I love you full.
Gusdur mengajarkan kepada kita kesederhanaan dan kebersahajaan, jabatan itu kalau perlu digadaikan saja dengan kebenaran, tak perlu dipertahankan kalau hanya menyebabkan terjadinya kemadharatan yang lebih besar pada masyarakat.
Pendapat Dick menyentakkan saya ketika beliau menyatakan seni lebih tua dari agama dan gusdur tahu itu, seni mampu melenturkan pandangan agama yang kaku dan keras menjadi lembut dan indah. Gusdur juga telah memberikan ruang kebebasan yang luas untuk dapat digunakan sebagai tempat berekspresi tanpa rasa takut dan khawatir salah. Diruang kebebasan itulah sebenarnya kita dapat berlomba-lomba berbuat kebajikan dalam rangka mengabdi kepada sang Khalik melalui metode yang santun meski terpaksa harus menempuh jalan dan dimensi yang berbeda-beda. Kata kunci beragama itu "laa ikraaha fiddiini" yaitu kebebasan mengekspresikan keberagamaan asal dibarengi dengan niat dan ketulusan dalam meraih ridha Tuhan.
Selamat jalan Gus semoga lahir gus-gus yang bersedia meneruskan perjuanganmu, I love you full.
Selasa, 29 Desember 2009
MEMPOSISIKAN TEKS AL-QUR'AN DAN HADIST SEBAGAI DOKTRIN KEBENARAN TUNGGAL
Bacalah atas nama Tuhanmu, itulah kunci utama yang mesti dipergunakan untuk menguak kebenaran atau tanda-tandanya baik yang ada didalam al-qur’an maupun yang digelar di alam nyata ini (antara lain termasuk sunnah Rasul). Pernyataan diatas begitu terbukanya, tentunya multi dimensi dan bebas diinterpretasikan, karenanya ayat tersebut tidak berbunyi “bacalah atas nama Allah” tapi “atas nama TuhanMu (Rabb mu) “ yang memelihara kamu, yang lebih menghidupkan kamu, karena Tuhanlah yang memberi rizki dan menggelar bumi ini untuk dapat dimanfaatkan manusia dalam mengaktualisasikan hidupnya. Antara kamu (Muhammad) dan Tuhanmu bukan dua kata yang berada dialam metafisis yang kontradiktif, melainkan dua kata yang bersimbiosis, Tuhanmu yang memfasilitasi dan manusia yang dituntut menggunakan fasilitas tersebut untuk kemaslahatan hidupmya.
Istilah “Allah” dan “Rabbika” jika dilihat dari hermeneutikanya, memiliki esensi yang satu dari segi dzatnya, tapi dalam aktualisasinya memiliki fungsi yang berbeda, Allah merupakan simbul kesatuan essensi yang metafisik, yaitu dzat yang tak bisa disentuh dan tak perlu dinalar, sedangkan Rabbika merupakan simbul kekuasaan sejati yang apresiatif yang membiarkan proses menuju tujuan ini berjalan terbuka dan penuh dinamika dan bahkan toleran terhadap terjadinya perbedaan- perbedaan asal niat dan tujuannya tetap sama yaitu mengabdi kepada Allah dan menjauhi Thaghut (kekuasaan yang mencatut nama Tuhan).
Al-qur’an adalah wahyu yang dikomunikasikan Allah kepada utusannya yang terpercaya (Muhammad) mesti dipahami dari dua perspektif. Menurut Nur Khalik Ridwan, Pertama dilihat dari sisi yang menemukan: Al-qur’an adalah hasil penemuan manusia, atau hasil dari pergolakan jiwanya. Kedua, dari sisi yang menurunkan: maka Al-qur’an mestilah diturunkan Tuhan kepada rasul Muhammad untuk disebarkan pada ummat manusia dimuka bumi ini. Pandangan ini untuk menegaskan bahwa Al-qur’an tak bisa disebut kreasi manusia , kalau rujukan yang dipakai adalah yang menurunkan. Sebaliknya, Al-qur’an bisa disebut hasil kreasi manusia dari pergolakan jiwanya, kalau yang dirujuk adalah Rasul yang melahirkan.
Sedang Sunnah Rasul atau hadist adalah model-model penjabaran ajaran Al-qur’an dan perluasannya yang dicontohkan rasul Muhammad dalam merespon dan mengkritisi model model yang dipraktekkan oleh masyarakat arab jahiliyah ketika itu yang dianggap menyimpang dan yang diprediksikan akan menjauhkan manusia dari rasa keadilan dan kesejahteraan hidup yang lebih merata serta menghancurkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Jadi posisi hadist bukan sumber kedua setelah Al-qur’an, melainkan bagian saja dari sumber kedua (yaitu alam kauniyah), hanya saja ia memiliki posisi strategis dibanding peristiwa kauniyah yang lain karena ini dilakukan Rasulullah sejak awal yang seharusnya bukan sekedar menjadi contoh melainkan menjadi sumber inspirasi karena yang direspon dan dikritisi ummatnya adalah model model perilaku masyarakat majemuk yang terus berubah karena keniscayaan zaman dan kehidupan.
Maka menjadi jelaslah memposisikan teks Al-qur’an sebagai doktrin kebenaran tunggal yang menafikan kemungkinan interpretasi yang berbeda adalah sebuah strategi yang menyesatkan karena al-Qur’an sendiri ajaranya masih sangat universal sehingga dimungkinkan penjabarannya berbeda yang bermakna bahwa yang terkandung dalam teks Al-qur’an adalah kemungkinan-kemungkinan kebenaran yang bisa menjadi kepastian-kepastian kebenaran. Apalagi sunnah rasul atau teks hadist, sangat naiflah kalau itu harus diposisikan sebagai doktrin kebenaran tunggal yang menafikan kemungkinan interpretasi yang berbeda wong hadist itu pada hakekatnya merupakan respons Nabi terhadap realitas masyarakat arab jahiliyah yang barangkali sejak awal sudah berbeda sekali misalnya dengan budaya masyarakat jawa . Jadi masyarakat Jawa tidak harus sama dong cara mengaktualisasikan Islamnya dengan masyarakat arab. Oleh karena itu segala bentuk arabisasi budaya harus ditolak oleh masyarakat Islam dunia terutama masyarakat jawa, karena kita punya budaya sendiri yang lebih terbuka, toleran dan humanis.
Jadi memposisikan teks Al-qur’an dan hadist sebagai doktrin kebenaran tunggal adalah sebuah paham pemikiran yang sangat bertentangan dengan ajaran Al-qur’an yang menghargai pluralitas dan sangat toleran terhadap perbedaan-perbedaan, dan doktrin yang dikenal sebagai wahabisme tersebut sebenarnya cerminan dari watak budaya arab yang puritan dan intoleran yang sudah kehilangan ruh keislamannya.
Istilah “Allah” dan “Rabbika” jika dilihat dari hermeneutikanya, memiliki esensi yang satu dari segi dzatnya, tapi dalam aktualisasinya memiliki fungsi yang berbeda, Allah merupakan simbul kesatuan essensi yang metafisik, yaitu dzat yang tak bisa disentuh dan tak perlu dinalar, sedangkan Rabbika merupakan simbul kekuasaan sejati yang apresiatif yang membiarkan proses menuju tujuan ini berjalan terbuka dan penuh dinamika dan bahkan toleran terhadap terjadinya perbedaan- perbedaan asal niat dan tujuannya tetap sama yaitu mengabdi kepada Allah dan menjauhi Thaghut (kekuasaan yang mencatut nama Tuhan).
Al-qur’an adalah wahyu yang dikomunikasikan Allah kepada utusannya yang terpercaya (Muhammad) mesti dipahami dari dua perspektif. Menurut Nur Khalik Ridwan, Pertama dilihat dari sisi yang menemukan: Al-qur’an adalah hasil penemuan manusia, atau hasil dari pergolakan jiwanya. Kedua, dari sisi yang menurunkan: maka Al-qur’an mestilah diturunkan Tuhan kepada rasul Muhammad untuk disebarkan pada ummat manusia dimuka bumi ini. Pandangan ini untuk menegaskan bahwa Al-qur’an tak bisa disebut kreasi manusia , kalau rujukan yang dipakai adalah yang menurunkan. Sebaliknya, Al-qur’an bisa disebut hasil kreasi manusia dari pergolakan jiwanya, kalau yang dirujuk adalah Rasul yang melahirkan.
Sedang Sunnah Rasul atau hadist adalah model-model penjabaran ajaran Al-qur’an dan perluasannya yang dicontohkan rasul Muhammad dalam merespon dan mengkritisi model model yang dipraktekkan oleh masyarakat arab jahiliyah ketika itu yang dianggap menyimpang dan yang diprediksikan akan menjauhkan manusia dari rasa keadilan dan kesejahteraan hidup yang lebih merata serta menghancurkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Jadi posisi hadist bukan sumber kedua setelah Al-qur’an, melainkan bagian saja dari sumber kedua (yaitu alam kauniyah), hanya saja ia memiliki posisi strategis dibanding peristiwa kauniyah yang lain karena ini dilakukan Rasulullah sejak awal yang seharusnya bukan sekedar menjadi contoh melainkan menjadi sumber inspirasi karena yang direspon dan dikritisi ummatnya adalah model model perilaku masyarakat majemuk yang terus berubah karena keniscayaan zaman dan kehidupan.
Maka menjadi jelaslah memposisikan teks Al-qur’an sebagai doktrin kebenaran tunggal yang menafikan kemungkinan interpretasi yang berbeda adalah sebuah strategi yang menyesatkan karena al-Qur’an sendiri ajaranya masih sangat universal sehingga dimungkinkan penjabarannya berbeda yang bermakna bahwa yang terkandung dalam teks Al-qur’an adalah kemungkinan-kemungkinan kebenaran yang bisa menjadi kepastian-kepastian kebenaran. Apalagi sunnah rasul atau teks hadist, sangat naiflah kalau itu harus diposisikan sebagai doktrin kebenaran tunggal yang menafikan kemungkinan interpretasi yang berbeda wong hadist itu pada hakekatnya merupakan respons Nabi terhadap realitas masyarakat arab jahiliyah yang barangkali sejak awal sudah berbeda sekali misalnya dengan budaya masyarakat jawa . Jadi masyarakat Jawa tidak harus sama dong cara mengaktualisasikan Islamnya dengan masyarakat arab. Oleh karena itu segala bentuk arabisasi budaya harus ditolak oleh masyarakat Islam dunia terutama masyarakat jawa, karena kita punya budaya sendiri yang lebih terbuka, toleran dan humanis.
Jadi memposisikan teks Al-qur’an dan hadist sebagai doktrin kebenaran tunggal adalah sebuah paham pemikiran yang sangat bertentangan dengan ajaran Al-qur’an yang menghargai pluralitas dan sangat toleran terhadap perbedaan-perbedaan, dan doktrin yang dikenal sebagai wahabisme tersebut sebenarnya cerminan dari watak budaya arab yang puritan dan intoleran yang sudah kehilangan ruh keislamannya.
Kamis, 17 Desember 2009
CINTA
entahlah makhluk apakah cinta
kata penyair, cinta adalah nafas
tatkala cinta tercerabut dari akar, hilanglah nafas...
dan menjadikan makhluk yang bernama manusia seolah jasad tak bernyawa..
gelap, sunyi, hampa dan tanpa daya..
kata "teman" kecilku (baca: hati nurani)
cinta adalah ibu...dia lembut dan hangat dipelukan, dia inspirator agar kita berani berdiri, melangkah, bahkan berlari, dia beri sentuhan indah di hati pengagumnya;
dia hidupkan semangat dan nyalakan api gairah menatap langit
cinta adalah ibu, karena cinta tak kan rela jika buah hati bersedih bahkan terluka
cinta dan ibu sanggup berhari-hari terjaga demi sang buah hati mampu melewati masa sulit
cinta dan ibu tak kan rela sang buah hati tahu betapa berat beban di panggul.
cinta dan ibu senantiasa berikan senyum terindah tuk si buah hati..
cinta tak mengenal apa itu pengorbanan. karena cinta dan ibu tak pernah merasa telah berkorban...
cinta dan ibu tak pernah menuntut balas seberapa banyak ASI yang telah mengalir dalam darah (jiwa) untuk si buah hati
cinta tak kenal letih hadapi karang terjal berliku
cinta adalah ibu dia pengasih, penyayang, pelindung, dan pemaaf
cinta dan ibu mampu hadirkan tawa diantara duka, hadirkan kekuatan ketika letih menggelayut
hadirkan kekuatan dan keyakinan manakala gundah mencekam
dan aku mensyukuri masih diberi cinta di hati oleh ilahi
kata penyair, cinta adalah nafas
tatkala cinta tercerabut dari akar, hilanglah nafas...
dan menjadikan makhluk yang bernama manusia seolah jasad tak bernyawa..
gelap, sunyi, hampa dan tanpa daya..
kata "teman" kecilku (baca: hati nurani)
cinta adalah ibu...dia lembut dan hangat dipelukan, dia inspirator agar kita berani berdiri, melangkah, bahkan berlari, dia beri sentuhan indah di hati pengagumnya;
dia hidupkan semangat dan nyalakan api gairah menatap langit
cinta adalah ibu, karena cinta tak kan rela jika buah hati bersedih bahkan terluka
cinta dan ibu sanggup berhari-hari terjaga demi sang buah hati mampu melewati masa sulit
cinta dan ibu tak kan rela sang buah hati tahu betapa berat beban di panggul.
cinta dan ibu senantiasa berikan senyum terindah tuk si buah hati..
cinta tak mengenal apa itu pengorbanan. karena cinta dan ibu tak pernah merasa telah berkorban...
cinta dan ibu tak pernah menuntut balas seberapa banyak ASI yang telah mengalir dalam darah (jiwa) untuk si buah hati
cinta tak kenal letih hadapi karang terjal berliku
cinta adalah ibu dia pengasih, penyayang, pelindung, dan pemaaf
cinta dan ibu mampu hadirkan tawa diantara duka, hadirkan kekuatan ketika letih menggelayut
hadirkan kekuatan dan keyakinan manakala gundah mencekam
dan aku mensyukuri masih diberi cinta di hati oleh ilahi
Langganan:
Postingan (Atom)